BAHAYA KESERINGAN MINUM OBAT

BeritaHebohIndo – BAHAYA KESERINGAN MINUM OBAT, Memang saat si kecil sakit, ia harus minum obat. Tapi, tentu tak perlu khawatir memikirkan efek samping obatnya dulu. Saat meresepkan obat, dokter sudah menghitung untung ruginya bagi si kecil. Sehingga selama obat itu diresepkan dokter dan diberikan sesuai indikasi penyakitnya, ya, tak masalah. Apalagi dokter sudah menghitung dosis yang paling tepat bagi si pasien dan lama penggunaan obat tersebut.

Misalnya, untuk menghilangkan infeksi, pasien diberi obat antibiotik untuk batas waktu tertentu dan harus dihabiskan. Bisa juga dokter hanya memberikan obat batuk pilek saja tanpa antibiotik karena dianggap tak ada suatu infeksi.

Yang repot, kalau kemudian orang tua tak tertib memberikan obat pada anak. Karena, anak belum bisa mandiri dalam soal minum obat, kan? Misalnya, tukas Kishore, lantaran menganggap sudah sembuh antibiotiknya distop. Akibatnya bukan jadi sembuh, lo, Bu-Pak, tegas Kishore, malah bisa tak efektif untuk penyembuhan.

ASAL-ASALAN

Sebaliknya ada juga orang tua yang gampang memberikan obat pada anak. Misalnya, setiap kali badan anak panas sedikit saja, langsung diberi obat penurun panas. Tanpa disadari orang tua, hal ini bisa saja jadi sering dilakukannya; saat panas lagi minum kembali obat yang sama, begitu seterusnya. Nah, hal ini justru bisa menjadi berisiko bagi si anak. Karena obat-obat bebas seperti parasetamol untuk penurun panas, hanya bisa diberikan untuk sementara. Nah, pemberian tanpa kontrol tentu akan merugikan di kemudian hari.

Atau bisa juga orang tua malah bertindak ekstrem. Karena, misalnya, kita tahu efek parasetamol bisa mengakibatkan kerusakan fungsi hati, jadi sama sekali tidak mau memberikan obat tersebut kendati anak sedang panas.

Jadi, langkah terbaik adalah orang tua harus tetap membawa anak ke dokter untuk diperiksa penyakitnya dan diberi obat yang tepat.

SELALU RAJIN MEMONITOR

Jadi, Bu-Pak dalam memberikan obat pada anak tak bisa sembarangan obat begitu saja, baik dari jenis obat, jumlah obat, berapa kali pemberian, sampai cara pemberian. Karena itu, lanjut Kishore, bila timbul gejala sakit pada anak segeralah ke dokter.

Satu atau dua hari sebelum obat habis, orang tua sebaiknya membawa anak kembali (bila ia belum sembuh) untuk dievaluasi. Sehingga dokter akan memeriksa kembali penyakitnya, lalu menilai perlu tidaknya obat diganti, diteruskan atau dihentikan. Juga dievaluasi ada tidaknya efek samping dari penggunaan obat yang sudah diberikan.

BAHAYA KESERINGAN MINUM OBAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *